Perundungan siber atau cyberbullying di lingkungan sekolah ibarat gunung es; yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil, sementara dampak emosional di bawahnya sangatlah luas. Dalam banyak kasus, aksi perundungan ini terjadi di grup WhatsApp kelas atau kolom komentar media sosial yang disaksikan oleh puluhan siswa lainnya. Namun, sebuah pertanyaan besar muncul: Mengapa sebagian besar saksi yang melihatnya justru memilih untuk diam dan tidak membela korban?
Dalam psikologi, fenomena ini disebut sebagai Bystander Effect, di mana seseorang merasa tidak perlu bertindak karena menganggap akan ada orang lain yang melakukannya. Rasa takut akan dikucilkan atau menjadi target berikutnya sering kali lebih besar daripada rasa empati kepada korban.
Diam saat melihat ketidakadilan di ruang digital adalah bentuk pembiaran yang memperkuat posisi pelaku. Pendidik perlu menanamkan bahwa menjadi "netizen yang baik" bukan sekadar tidak menghina, melainkan juga berani melaporkan atau memberikan dukungan moral kepada korban. Tindakan sederhana seperti melaporkan unggahan (report) atau mengirimkan pesan penguatan secara pribadi kepada korban bisa menjadi penyelamat bagi kesehatan mental mereka.
Menciptakan ruang aman untuk melapor adalah kunci utama. Siswa sering kali diam karena mereka tidak tahu harus melapor ke mana tanpa dianggap sebagai "tukang adu". Sekolah harus membangun sistem pengaduan yang rahasia dan responsif, sehingga para saksi merasa terlindungi saat mereka memilih untuk tidak lagi menjadi penonton pasif.
Memutus rantai perundungan siber dimulai dari keberanian satu orang untuk berkata "ini tidak benar". Dengan mengedukasi siswa untuk beralih dari saksi yang diam (passive bystander) menjadi pembela yang aktif (upstander), kita sedang membangun ekosistem sekolah yang penuh empati dan integritas. Mari kita pastikan tidak ada lagi siswa yang merasa sendirian di tengah keramaian dunia digital.
Mari Berdiskusi: Menjadi Pembela di Ruang Digital
Berani bersuara di tengah tekanan kelompok bukanlah hal yang mudah. Bagaimana pendapat Anda?
- Menurut Anda, apa alasan utama yang membuat siswa merasa takut melaporkan aksi perundungan siber yang mereka saksikan?
- Bagaimana cara terbaik bagi sekolah untuk menghargai para siswa yang berani melapor tanpa membuat mereka merasa terancam secara sosial?
Tuliskan pendapat Anda di kolom komentar! Mari kita saling bertukar ide untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari rasa takut.

0 Comments