Kemampuan teknis tanpa panduan moral ibarat memberikan mobil balap kepada seseorang yang belum tahu aturan lalu lintas. Di sinilah peran vital kita, Guru dan Orang Tua, diuji.
Tantangan Generasi "Cerdas Teknis, Lemah Etis"
Kita sering terjebak dalam rasa bangga melihat anak-anak
lihai berselancar di internet. Namun, fakta di lapangan menunjukkan tantangan
yang mengkhawatirkan:
- Anak tahu
cara memposting, tapi belum tentu paham dampaknya bagi reputasi masa depan
- Anak tahu
cara berkomentar, tapi seringkali abai terhadap empati dan perasaan orang
lain.
- Anak tahu
cara mencari informasi, tapi belum memiliki filter untuk menyaring hoaks.
Peran Guru: Sang Navigator Karakter
Di sekolah, Guru bukan lagi sekadar penyampai materi
kurikulum. Dalam konteks digital, Guru adalah Pendidik Karakter Digital.
- Keteladanan
adalah Kunci: Setiap pesan WhatsApp yang Anda kirim ke siswa, setiap
komentar Anda di media sosial, dan cara Anda memimpin kelas daring adalah
"kurikulum tersembunyi" bagi mereka.
- Menanamkan
Nilai, Bukan Sekadar Instruksi: Ajarkan mereka mengapa mereka
harus sopan, bukan sekadar apa yang harus diketik. Bantu mereka
memahami bahwa ada manusia nyata di balik setiap layar.
Peran Orang Tua: Teladan dan Pelabuhan Dialog
Di rumah, Orang Tua adalah Benteng Moral anak.
- Dialog
di Atas Pembatasan: Membatasi screen time memang perlu, namun
berdialog jauh lebih bermakna. Jadilah orang pertama yang mereka ajak
bicara saat mereka menemukan hal aneh atau tidak nyaman di internet.
- Menjadi
Teladan (Role Model): Anak-anak adalah peniru yang hebat. Jika kita
ingin anak bijak berinternet, tunjukkan bahwa kita pun tidak sibuk dengan
gadget saat sedang bersama mereka di meja makan.
Sinergi: Membangun Ekosistem yang Beradab
Sinergi antara sekolah dan keluarga adalah pondasi utama.
Pendidikan teknologi tanpa etika hanya akan menghasilkan generasi yang cerdas
secara teknis, namun miskin empati dan tanggung jawab.
Mari kita sepakati satu hal: Tugas kita bukan menjauhkan
mereka dari teknologi, melainkan membimbing mereka agar tetap menjadi manusia
yang beradab di dalamnya.
"Menurut Bapak/Ibu Guru, apa tantangan tersulit saat
membimbing etika digital siswa saat ini? Mari berdiskusi di kolom
komentar."

0 Comments